Jl. H. Naman no.60 - Pondok Kelapa - Jakarta Timur
021-86905367
yrlajt05@gmail.com

Keutamaan Infak, Sedekah dan Zakat di Bulan Ramadan

Ramadhan Berbagi Inspirasi, Ilmu, serta syiar Islam dengan membahagiakan yatim dhuafa pada bulan berkah.

Sedekah

Di bulan Ramadan, segala ‘ibadah, amal sholih sesuai syari’ah, akan dilipatgandakan nilai pahalanya oleh Allah.

Sangat dianjurkan juga disaat bulan Ramadan ini bagi setiap muslim untuk semakin memperbanyak amaliah dan berbuat kebaikan.

Bukan hanya kegiatan yang berdimensi untuk kebaikan diri sendiri dalam upaya meraih derajat ketaqwaan disisi Allah, tapi juga kegiatan berdimensi sosial.

Bersedekah dapat mencegah musibah


Rasulullah Muhammad menganjurkan umat Islam agar banyak berinfak dan bersedekah di Bulan Ramadan, serta mengeluarkan zakat fitrah sesuai yang telah ditentukan secara syar’i.

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh (10) kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus (700) kali lipat.

Hadist Bukhori Muslim mengatakan, Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan, karena-Ku.

Bagi orang yang berpuasa, akan mendapatkan dua kebahagiaan, yakni kebahagiaan ketika dia berbuka puasa (ifthaar), dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Robbnya (Tuhan Pengaturnya). Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak Kasturi.

Lebih lanjut orang yang umroh saat Ramadan senilai ibadah haji.
“Jika Ramadan tiba, berumrohlah saat itu, karena umroh Romadhon senilai dengan haji.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Infak

Menurut Ibnu Rajab Al Hambali – raahiimahulloh, “Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat ganda dibandingkan amalan lainnya, maka berpuasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya.

Ini semua dapat terjadi karena mulianya bulan Ramadhan, dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.” Lathoif Al Ma’arif- 271.

Maksudnya, adalah bahwa segala hal ‘amal ibadah dan ‘amal sholih, akan dilipat-gandakan pahalanya.

Setiap muslim dituntut khudhu dan tawadhu karena Allah SWT menyukai sifat orang yang rendah hati, tidak sombong, menjaga dan menyambung silaturahmi, maka Allah akan mengangkat darajat serta kedudukannya.

Rasulullah Muhammad menganjurkan salah satu cara menyambung silaturrahim adalah dengan berinfak, menolong sesama, khususnya bagi muslimin yang membutuhkan uluran tangan dan bantuan.

Sedekah apapun bentuk dan nilainyanya, tak perlu disebut, tak perlu diungkit. Berinfaklah sesuai kemampuan kita dan biarlah Allah yang membalasnya. Infaq bagi yang berpuasa di Bulan Ramadan bernilai pahala yang dilipatgandakan.

Firman Allah SWT:
وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya:
“Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. ” (QS. Al Furqon: 63).

Syaikh Muhammad mengatakan “Jika ada orang jahil mengejek, maka balaslah dengan mengucapkan doa kebaikan untuknya semisal mengucapkan ‘jazakallah khoiron‘. Lalu berpaling darinya. Tidak perlu berbicara dan melakukan hal lainnya.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 4: 297-298).

Adab diajarkan Al Qur’an pula adalah membalas setiap tingkah laku jelek dari orang lain dengan kebaikan. Siapa yang bisa melakukan hal ini, sungguh ia benar-benar memiliki sifat sabar.

Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ
وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Artinya:

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolak kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Sedekah

Bersedekah adalah amalan yang dianjurkan di Bulan Ramadan, tidak harus berbentuk uang atau harta-benda. Yang miskin dan dhuafa pun bahkan memang tak berharta pun, dapat melakukannya dan dilipatgandakan nilainya oleh Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ
وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ ”

Artinya:

“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya sebuah rumah di Surga, hendaknya ia memaafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.” (HR. Thabrani).
Hadits mengandung makna bahwa:

Pertama, Orang yang memberi maaf kepada orang lain yang telah berbuat aniaya, oleh Allah telah disediakan rumah di surga.

Kedua, Meminta maaf secara psikologis tentu terasa berat, dan yang lebih berat dari itu adalah memaafkan terhadap kesalahan orang kepada kita.

Ketiga, Orang yang bersedekah tidak akan mengurangkan hartanya, termasuk dalam hal ini sedekah kepada orang Bakhil.

Keempat, Allah SWT akan menggantikan dengan yang lebih baik malah akan didoakan oleh Malaikat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَامِن يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنزِلاَنِ, فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اَللهُمَّ أَعْطِ مُنفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الآخَرُ: اللهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Artinya:

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:
“Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berdoa;

“Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang satunya lagi berdoa; “Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “.(HR Bukhari No: 1351).

Rasulullah SAW bersabda, “Tiap muslim wajib bersedekah. ” Sahabat Nabi bertanya, “Bagaimanakah kalau dia tidak memiliki sesuatu?” Nabi SAW menjawab, “Bekerja dengan keterampilan tangannya untuk kemanfaatan bagi dirinya, lalu bershodaqoh.”

Mereka bertanya lagi: “Bagaimanakah kalau dia tidak mampu?” Nabi SAW menjawab, “Menolong orang yang membutuhkan yang sedang teraniaya.” Mereka bertanya, “Bagaimanakah kalau dia tidak melakukannya?” Nabi SAW menjawab, “Menyuruh berbuat yang ma’ruf (benar, baik).”

Mereka bertanya, “Bagaimanakah kalau dia tidak melakukannya?” Nabi SAW menjawab, “Mencegah diri dari berbuat kejahatan itulah shadaqoh.” (HR. Bukhori dan Muslim)

“Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah shodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan ma’ruf adalah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum), dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu.” (HR. Ahmad)

Allah SWT berfirman (di dalam hadits Qudsi):

“Hai anak Adam, infaqkanlah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)

“Orang yang mengusahakan bantuan (pertolongan) bagi janda dan orang miskin, ibarat sedang berjihad di jalan Allah, dan ibarat orang yang sedang sholat malam. Ia tidak merasa lelah, dan ia juga ibarat orang berpuasa yang tidak pernah berbuka puasa.” (HR. Bukhori)

Sahabat bertanya kepada Rosuululloh SAW, “Shadaqoh (sedekah) yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?”

Nabi SAW menjawab, “Saat kamu bershodaqoh hendaklah kamu sehat, dan dalam kondisi pelit (mengekang, harus berhemat), dan saat kamu takut melarat, tetapi mengharapkan menjadi kaya.

Janganlah ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhori)

“Barangsiapa yang ingin agar doanya dikabulkan dan dibebaskan dari kesulitannya, hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain.” (HR. Ahmad)

“Jauhkanlah dirimu dari api Neraka, walaupun hanya dengan (shodaqoh) sebutir kurma.” (Hadits Muttafaq’alaihi)

“Turunkanlah (datangkanlah) rizkimu (dari Allah) dengan mengeluarkan shodaqoh.” (HR. Al-Baihaqi)

“Bentengilah hartamu dengan zakat, obatilah orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bershodaqoh, dan persiapkanlah doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR. Ath-Thabrani)

“Tiadalah seseorang bershodaqoh dengan baik, melainkan dengannya Allah memelihara kelangsungan warisannya.” (HR. Ahmad)

“Apa yang kamu nafkahkan dengan tujuan keridhoan Allah akan diberikan pahala, walaupun hanya sesuap makanan ke mulut isterimu.” (HR. Bukhori)

“Shodaqoh yang paling afdhol adalah yang diberikan kepada keluarga dekat yang bersikap memusuhi.” (HR. Ath-Thabrani dan Abu Dawud)

Maka sungguh, kebakhilan, kepelitan, kedengkian, dan lain-lain itu, tak pantas. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Allah SWT berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْـرًا لَّهُمْ ؕ
بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ؕ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ؕ
وَ لِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ؕ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

Artinya:

“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir (bakhil) dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karuniaNya, mengira bahwa (kekikiran, kebakhilan) itu baik bagi mereka, padahal (kekikiran, kebakhilan) itu buruk bagi mereka.

Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui terhadap apa saja yang kamu kerjakan.” (QS. Aali ‘Imraan: Ayat 180)

Marilah kita memakmurkan bulan Romadhon dengan aneka ‘amal sholih, ‘amal ‘ibadah! Fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan! “Tidak ada iri hati kecuali terhadap dua (2) perkara, yakni:

(1) Seseorang yang diberikan Allah harta lalu dia belanjakan pada sasaran yang benar, dan

(2) Seseorang yang diberikan Allah ilmu dan kebijaksaan lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori)

Senyampang masih hidup. Semasa masih mampu beramal sholih. Karena kini adalah masa mengabdi, berkarya, dan beribadah dengan segala hal (termasuk dengan berkarya, bekerja, menuntu ilmu, mengajar, dsb.), tanpa dihisab.

Kelak, akan datanglah masa dihisab, tanpa mampu lagi beramal! Janganlah sampai malu dan merugi, di saat itu! Allah SWT berfirman:

قُلْ هَلْ نُـنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا

Artinya:

Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?”

اَ لَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
Artinya:

(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan Dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.

اُولٰۤئِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًـا

Artinya:

Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sialah amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan (tidak menghitung) terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat. (QS. Al-Kahf: Ayat 103-105).

Zakat Fitrah

Dalam hadist Riwayat Bukhari Muslim, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithri dengan satu sho’ kurma atau satu sho’ gandum bagi setiap muslim yang merdeka maupun budak, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa.

Zakat tersebut diperintahkan untuk dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat ‘ied.

Bentuk zakat fitrah berupa makanan pokok seperti kurma, gandum, beras, kismis, keju dan semacamnya yang ada di daerah tersebut.

Ulama sepakat bahwa kadar wajib zakat fithri adalah satu sho’ dari semua bentuk zakat fitrah kecuali untuk qomh (gandum) dan zabib (kismis) sebagian ulama membolehkan dengan setengah sho’

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُمْ رَٰكِعُونَ
Artinya:

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. Al-Ma’idah [5] : 55)

Setiap rezeki yang Allah titipkan ada bagian untuk saudara-saudara kita yang membutuhkan. Itulah mengapa dalam Al Quran dijelaskan manfaat Zakat yang membersihkan harta sekaligus hati.

Tak banyak memang 2,5% dari apa yang kita dapatkan bahkan yang kita miliki, tapi jumlah itu sangat berharga bagi saudara-saudara kita yang tengah bertahan dalam duka atau yang sedang berjuang melawan kemiskinan.

Mari tambah keberkahan harta dengan menyisihkannya untuk yang berhak menerima. Zakat penghasilan hanya 2,5% dari total penghasilan (nishab setara 522 kg beras), zakat maal untuk harta serta aset produktif yang sudah mencapai nishabnya selama setahun (setara emas 85 gram).

Harta apa saja yang perlu dikeluarkan zakatnya?

1. Binatang ternak
2. Emas dan perak
3. Biji makanan yang mengenyangkan
4. Buah-buahan
5. Harta perniagaan

Leave a Reply

Informasi lengkap, hubungi kami sekarang

Untuk Partisipasi Ramadhan Berbagi tahun ini .. silakan klik di bawah ini untuk memulai chat.

Customer Service

Desi Fatma

Online

Desi Fatma

Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu ? 00.00