Jl. H. Naman no.60 - Pondok Kelapa - Jakarta Timur
021-86905367
yrlajt05@gmail.com

Perang Badar, Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Ramadhan

Ramadhan Berbagi Inspirasi, Ilmu, serta syiar Islam dengan membahagiakan yatim dhuafa pada bulan berkah.

Perang Badar

Peristiwa Penting di Bulan Ramadhan –  Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinanti oleh jutaan umat islam di seluruh dunia. Hal itu dikarenakan pada bulan ini, menu pahala disajikan berlipat ganda. Rasulullah saw. bersabda “Ramadhan adalah bulan umatku”. Selain itu, pada bulan Ramadhan ini juga terdapat banyak peristiwa bersejarah yang perlu kita ketahui. Dimana pada peristiwa-peristiwa tersebut terdapat banyak pelajaran dan hikmah yang terkandung didalamnya.

Salah satu peristiwa yang sangat penting adalah peristiwa Perang Badar. Perang badar adalah perang pertama dalam islam yang terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua Hijriah antara kaum muslimin dan kaum Musyrikin Mekkah. Perang ini adalah perang yang sangat penting bagi umat islam pada saat itu demi tegaknya panji tauhid dan izzah islam.

Lembah Badar tempat terjadinya peristiwa Perang Badar

Badar adalah nama sebuah lembah yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Lembah ini diapit oleh dua bukit, yakni bukit ‘Udwaj al Qashwa di bagian barat dan Bukit Udwah ad Dunya di bagian barat. Selain itu di bagian selatan juga ada bukit al-Asfal.

Jauh sebelum masa keislaman, Badar telah menjadi jalur yang banyak dilintasi oleh kafilah-kafilah dagang yang berasal dari Mekkah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam. Tanahnya merupakan tanah yang subur karena memiliki campuran tanah dengan beberapa mata air di lembah tersebut membuat para kafilah bisa singgah beristirahat dengan nyaman dilembah ini.

Selanjutnya semenjak peristiwa yang besar yakni peristiwa Perang Badar, Lembah badar menjadi sangat dikenal dalam sejarah islam karena telah menjadi saksi suatu peristiwa yang menjadi tonggak awal kejayaan islam. Di lembah inilah pertempuran yang sengit antara kaum muslim dengan kamu musyrikin Mekkah terjadi.

Perang Badar pada awalnya terjadi karena Rasulullah ingin mengambil kembali harta kaum muslimin Mekkah yang diambil oleh orang-orang kafir Quraisy. Untuk itu, beliau menghadang kafilah Quraisy yang datang dari negeri Syam, ketika itu pasukan kaum kafir Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan.

Abu Sufyan yang mengetahui kabar bahwa kaum muslimin akan mencegat perjalanan mereka kemudian segera mengutus seseorang untuk menyampaikan kepada saudara-saudara musyrik mereka yang ada di Mekkah agar melindungi kafilah dagang itu dari kaum muslimin.

Akhirnya pada 17 Ramadhan kedua pasukan bertemu di Badar. Pasukan kaum Muslimin berjumlah 314 orang yang terdiri dari 83 orang kaum Muhajirin, 231 orang dari golongan Anshar. Kemudian pasukan kaum Muslimin dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad Saw. dilengkapi dengan 70 ekor unta. Pemegang panji utama adalah Mush’ab bin Umair ra.

Sedangkan jumlah pasukan dari kaum musrikin tiga kali jauh lebih besar yakni  berjumlah 950 orang dilengkapi dengan 100 ekor kuda, 700 ekor unta, dan 600 baju besi untuk perang. Pasukan kaum Musyrikin dipimpin oleh Abu Jahal.

Perangpun akhirnya berkecamuk antara kedua pasukan hingga pada akhirnya, meskipun dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit dari kaum musyrikin, kaum muslimin berhasil meraih kemenangan dan kaum musyrikin mengalami kekalahan.

Sekitar 70 orang kaum musyrikin terbunuh diantaranya adalah para pembesar kaum kafir Quraisy seperti Abu Jahal, Umayyah bn Khalaf, Utbah bin Rabi’ah, dan Syaibah bin Rabi’ah. Sementara dari pasukan kaum muslimin terdapat 14 orang yang gugur sebagai syuhada dalam perang tersebut.

Setelah perang usai, Rasulullah menginstruksikan agar semua korban perang dari pihak Musyrikin dibuatkan lubang. Mayat-mayat itu lalu dimasukan kedalam lubang dan kemudian di timbun. Setelah itu rasulullah  berdiri disamping lubang tersebut seraya berseru, “Apakah kalian sudah menyadari bahwa janji Rabb itu benar? Saya sudah menyadari dan membuktikan janji Rabbku itu benar.”

Kemudian pada saat itu ada salah seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullahh, ” Wahai Rasulullah, engkau berbicara kepada orang mati yang sudah menjadi mayat?” Rasulullah saw. bersbda, “Kalian tidak lebih bisa mendengar daripada mereka. Bedanya mereka tidak bisa menjawab pertanyaan kalian.” (HR. Bukhori dan Abu Daud)

Rasulullah memerintahkan pasukannya untuk pulang ke Madinah. Ia menugaskan Abdullah bin Ka’ab bin Amr untuk mengurus harta rampasan perang (ghanimah). Kemudian harta rampasan perang tersebut dibagikan kepada umat muslim sesuai dengan perintah Allah.

Sahabat, setiap peristiwa yang terjadi dalam sejarah tentunya akan selalu mengandung hikmah dan pelajaran bagi seorang muslim. Termasuk dalam peristiwa perang badar ini, semoga dengan membaca sekilas tentang peristiwa perang badar diatas kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang terkandung didalamnya, terutama dalam menyiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Leave a Reply

Informasi lengkap, hubungi kami sekarang

Untuk Partisipasi Ramadhan Berbagi tahun ini .. silakan klik di bawah ini untuk memulai chat.

Customer Service

Desi Fatma

Online

Desi Fatma

Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu ? 00.00