Jl. H. Naman no.60 - Pondok Kelapa - Jakarta Timur
021-86905367
yrlajt05@gmail.com

Wanita Haid Bisa Beribadah di Bulan Ramadan? Ini Faktanya

Ramadhan Berbagi Inspirasi, Ilmu, serta syiar Islam dengan membahagiakan yatim dhuafa pada bulan berkah.

Berdoa

Haid bagi perempuan muslimah tetap bisa beribadah di bulan Ramadan. Haid merupakan perubahan fisiologis di tubuh perempuan yang terjadi berkala dan dipengaruhi hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron.

Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pad, hal ini bia perempuan, biasanya terjadi setiap bulan antara usia remaja sampai menopause.

Pada perempuan siklus menstruasi rata-rata terjadi sekitar 28 hari, walaupun hal ini berlaku umum, tetapi tidak semua perempuan memiliki siklus menstruasi yang sama, kadang-kadang terjadi setiap 21 hari hingga 30 hari.

Perempuan yang haid masih tetap bisa beribadah di bulan Ramadan


Dalam Islam, perempuan yang haid di bulan puasa tetap bisa beribadah, meskipun dilarang untuk berpuasa dan salat.

Perempuan muslimah yang berhalangan tetap bisa beribadah sunah dan mendapat pahal berlimpah.

Muslimah yang berhalangan tetap bisa menjalankan ibadah sunah dan mendapat pahala berlimpah.

Dalam kitab Taqrib dijelaskan tentang delapan jenis ibadah yang dilarang bagi perempuan yang sedang haid dan nifas.

Jenis ibadah yang dilarang yaitu mengerjakan salat, puasa, membaca Alquran, menyentuh dan membawa mushaf, masuk masjid, thawaf, jima’, dan bersenang-senang di sekitar organ kemaluan.

Sebaghian ulama berpendapat, 8 larangan itu dianut oleh mayoritas ulama Syafi’iyah. Contohnya, madzhab Maliki yang secara mutlak membolehkan perempuan membaca Alquran dan madzhab Hanbali yang membolehkan peremppuan i’tikaf di masjid.

Perempuan yang sedang mengalami haid atau nifas memang memiliki batasan menunaikan ibadah puasa. Namun, muslimah juga tetap bisa melakukan ibadah lain ketika haid di bulan Ramadan.
Berikut amalan-amalan ibadah yang bisa dikerjakan oleh perempuan yang haid di bulan Ramadan, mengutip dari nu.or.id:

1. Bersedekah (Beramal)

Perbanyak sedekah dan amal dengan hati ikhlas di bulan puasa dapat dilakukan wanita yan sedang haid. Islam selalu mengajarkan umatnya berbagai, berbuat baik, dan mengamalkan kebaikan.

Sesuai dengan firman Allah SWT di surah Al Baqarah,

“Perumpamaan orang yang menginfakkan harta di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui (QS 2:261).”

Anjuran sedekah juga diriwayatkan At-Tarmizi:
“Sesungguhnya sedekah itu memadamkan kemurkaan Allah dan menolak kejelekan,” (HR At-Tirmizi).

2. Berkegiatan Sosial

Kegiatan sosial yang positif selama Ramadhan dapat dilakukan perempuan yang sedang haid, seperti donor darah, menanam pohon, memberi makan kaum fakir, memudahkan urusan orang lain, mengajar, menyediakan buka puasa bagi anak-anak jalanan, dan lainnya.
Di bulan Ramadan, ibadah bernuansa sosial itu tercermin. Contohnya perintah menyuguhkan berbuka puasa walau hanya dengan sebiji kurma.
Artinya, kegiatan perempuan haid yang menghidangkan sajian berbuka untuk keluarga juga terhitung bernilai ibadah.
Karena sesungguhnya kegiatan sosial sesungguhnya ibadah yang memang menjadi jati diri dari makna puasa.

3. Berdoa

Berdoa dapat dilafalkan dengan bahasa apa saja, kapan saja, dan oleh siapa saja termasuk wanita yang sedang haid. Doa mengandung makna mendekatkan diri kepada Allah.

Di madzhab Syafi’I, sepakat bahwa perempuan yang haid atau nifas tidak diperkenankan menyentuh atau membawa mushaf.

Tetapi beberapa ulama memperbolehkan perempuan yang haid membaca Al-Qur’an (tanpa menyentuhnya) dengan niat dzikir, berdoa, atau mempelajarinya.

Mengenai hal ini I’anatuth Thalibin menjelaskan:

وإن قصد الذكر وحده أو الدعاء أو التبرك أو التحفظ أو أطلق فلا تحرم لأنه عند وجود قرينة لا يكون قرأنا إلا بالقصد ولوبما لا يوجد نظمه فى غير القرأن كسورة الإخلاص

“Apabila ada tujuan berdzikir saja atau berdoa, atau mencari berkah atau menjaga hafalan, atau tanpa tujuan apa pun (selama tidak berniat membaca Al-Qur’an) maka (membaca Al-Qu’an bagi perempuan haid) tidak diharamkan.

Kerena ketika dijumpai suatu qarinah, maka yang dibacanya itu bukanlah Al-Qur’an kecuali jika memang dia sengaja berniat membaca Al-Qur’an. Walaupun bacaan itu seseungguhnya adalah bagian dari Al-Qur’an semisal surat al-ikhlas.”

4. Berdzikir

Rasulullah menjelaskan tentang berzikir dalam hadits riwayat Imam Bukhari,
“Perumpamaan antara orang yang dzikir pada Rabbnya dan yang tidak, seperti antara orang yang hidup dan yang mati”.

Ada berbagai ragam dzikir seperti membaca tasbih, takbir, hauqalah, dan lainnya, selain berdzikir mengikuti kegiatan keagamaan seperti dalam majelis istighotsah, tahlilan, atau forum dzikir lainnya karena itu termasuk bernilai ibadah.

Ketika bulan Ramadan, umat Islam dianugerahi malam Lailatul Qadar yang disebut
Al-Qur’an setara nilainya dengan seribu bulan.

Malam tersebut jatuh menurut riwayat jatuh pada sepuluh terakhir Ramadan, tetapi persisnya hanya Allah yang tahu.

Sayyidah Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasul, andaikan aku bertemu Lailatul Qadar, doa apa yang bagus dibaca? Lalu Rasul menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Allâhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annî,’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai orang yang minta ampunan. Karenanya ampunilah aku).” (HR Ibnu Majah)

5. Mencari Ilmu

Mencari ilmu dalam Islam hukumnya wajib (faridlah). Manfaat mencari ilmu sangat besar pengaruhnya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Mencari ilmu dengan membaca buku atau kitab, ataupun melalui bimbingan guru dengan mendatangi majelis-majelis ilmu.

Manfaatnya yang sangat besar bagi diri sendiri dan orang lain dalam mencari ilmu.
Mencari ilmu termasuk ibadah bahkan setara nilainya dengan jihad.

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلهِ خَشْيَةٌ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ، وَمدَارَسَتَهُ تَسْبِيحٌ، وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ

Belajarlah ilmu, sesungguhnya belajar ilmu kerana Allah adalah suatu bentuk ketakwaan. Mencari ilmu adalah ibadah, menelaahnya adalah tasbih, dan mengkajinya adalah jihad.” (HR Ad-Dailami)

Selain kegiatan tersebut diatas, masih banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan muslimah ketika bulan Ramadhan tiba misalnya dengan berbagi paket berbuka puasa di Yayasan Rahmatan Lil ALamin Jakarta Timur.

Leave a Reply

Informasi lengkap, hubungi kami sekarang

Untuk Partisipasi Ramadhan Berbagi tahun ini .. silakan klik di bawah ini untuk memulai chat.

Customer Service

Desi Fatma

Online

Desi Fatma

Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu ? 00.00